World Press Photo 2016

KARTUPOS BURAM DARI SAMUDRA

Kisah gelombang air bah pengungsi Suriah di Jerman dan Eropa Barat adalah suatu tragedi. Migrasi kemanusiaan terbesar masa kini. Atensi pada gelombang manusia perahu jilid dua itu mencuat ke masyarakat global setelah imaji menggetarkan yang diabadikan Nilufer Demir, pewarta foto Kantor Berita Dogan, Turki, dipublikasikan secara luas. Di suatu Rabu, awal September yang cerah di pantai Bodrum Turki. Imaji itu terbujur kaku di bibir pantai, menelungkup dengan wajah menghadap lautan lepas. Bocah cilik mengenakan t-shirt merah, celana biru, dan bersepatu hitam menjadi suatu saujana paradoks yang kontras. Sebentuk karya cipta politik dan kekerasan massal atas nama agama yang menikam peradaban manusia dari belakang.

Memori perihal mendiang bocah yang kemudian diketahui bernama Aylan Kurdi itu melekat dalam benak pewarta foto lepas Indonesia, Kemal Jufri, yang berada di Frankfurt untuk memenuhi undangan pameran internasional, "Beyond Transisi: Contemporary Indonesian Photography" yang digelar di Frankfurt Foto Forum dimana dia menjadi salah satu pesertanya. Musim dingin di Jerman kali ini terasa lebih menggetarkan sumsum. Dua pekan sebelumnya Kemal memang telah merancang untuk memperpanjang keberadaannya di Jerman guna berkeliling ke sejumlah kota di Eropa Barat. Namun gelombang panjang manusia perahu Suriah yang mendarat di Jerman membuat Kemal merubah haluan rencana.

Setelah acara pokok berlalu, cerita Kemal melalui percakapan telpon Jumat (19/2) malam, dia lalu memutuskan turun ke kawasan Baltik guna meneruskan reportase yang telah dimulainya pada sejumlah barak pengungsi di Jerman. Kemal menghubungi sahabatnya, Matic Zorman, seorang pewarta foto yang tinggal di Slovenia seraya menyatakan niatnya. Zorman segera menyambutnya seraya mengajak Kemal bergabung dengannya, karena beberapa hari belakangan ini dia juga melakukan reportase foto di beberapa lokasi pengungsian di pinggiran kota-kota Serbia.

Menumpang bus malam dari Jerman, Kemal tiba di kota Sid, Serbia pada pagi harinya. Zorman menjemput di terminal dan langsung mengunjungi sejumlah kamp pengungsi di sekitar situ. Pada suatu siang di salah satu barak, Kemal dan Zourman mendapatkan suatu infomasi penting dari seorang relawan perihal terjadi suatu chaos di salah satu kamp di arah perbatasan Serbia dengan Macedonia. Mengingat jalan yang panjang dan kondisi VW Polo Zourman yang sudah butut, maka Zourman baru bersedia berangkat setelah dibujuk-bujuk bertubi-tubi oleh Kemal. Destinasi Presevo.

Menempuh sekitar lima jam perjalanan dua sahabat itu sampai juga di Presevo, yang kondisinya sungguh mengenaskan. Hujan musim dingin masih mengguyur kerumunan padat pengungsi yang antri untuk mendapatkan formulir registrasi pada kamp perbatasan tersebut. Sementara pada sisi lain kawasan, mata Zourman dan Kemal tertuju pada seorang bocah perempuan yang tertegun menatap tajam dari balik jeruji-jeruji yang mengurungnya. Mereka lalu mendekati subyek, memotret gadis cilik yang menatap dengan naif pada mereka. Kemal lalu bergerak ke sisi lain, sementara Zourman terus fokus mengarahkan lensa pada bocah polos itu.

Wajah gadis cilik dibalik jas hujan transparan yang menutupi wajahnya membuat foto yang dibuat Zourman itu terlihat sangat berkarakter dan kuat pesannya. Diberi judul "Waiting for Register", imaji Zourman itu disepakati menjadi terbaik dalam kategori People (tunggal) dalam kontes World Press Photo (WPP) 2016 yang diumumkan pada Kamis (18/2) petang silam. Imaji yang sangat potensial bersama dengan imaji butir hujan yang membasahi potret memorial para korban terorisme menjadi kandidat untuk melaju ke babak selajutnya. "Victim of Paris Attack" karya fotografer Spanyol, Daniel de Olza, merupakan perlambang dan tekad bagi perlawanan menentang terorisme, meskipun karya de Olza kemudian hanya meraih penghargaan ketiga dalam kategori People (cerita). Dia telah berhasil mengungkapkan metafora itu.

Sidang dewan juri akhirnya menetapkan pewarta foto lepas Warren Richardson sebagai peraih penghargaan tertinggi di bidang foto jurnalistik dunia. Menyusul foto hitam-putihnya, "Hope for a New Life" yang dipetiknya dari atmosfir tragedi gelombang air bah pengungsi di ruas perbatasan Horgos (Serbia) dengan Roszke (Hungaria) berhasil menaklukan hati dewan juri WPP ke 59, yang diketuai pewarta foto senior yang juga direktur foto AFP di Paris, Francis Kohn. Dengan speed lambat dan kamera yang disetel pada ASA 6400 dengan lensa yang terbuka penuh (f.1.4), imaji dramatis itu berhasil diabadikan fotografer otodidak berkebangsaan Australia yang tinggal di kawasan Balkan berkaitan dengan tugas reportasenya di Eropa Timur.

"Saya telah menginap lima hari dengan para pengungsi di kawasan perbatasan itu. Saat rombongan 200 pengungsi tiba dan mereka langsung seperti main kucing-kucingan dengan petugas yang mengejar mereka. Mereka berusaha menyeberangkan anak-anak dan orang-orang lanjut usia. Saat itu pukul 3 subuh, saya telah begitu lelah pada saat saya mengabadikan momentum itu," komentar Richardson di situs WPP usai pengumuman yang memenangkan namanya.

Imaji yang memperlihatkan seorang pria tengah mencoba menyeberangkan seorang bayi melewati kawat berduri yang tengah dikebut perampungan pemasangannya itu, menjadi lebih dramatis karena Richardson memilih hitam-putih sebagai medium hasil akhirnya. Hitam-putih dengan butiran-butiran pasir di latar belakang dinihari yang gelap, dengan cahya rembulan pada akhir bulan Desember 2015 membuat foto yang dibuat Richardson ini menjadi spesial. Elemen momentum dan sajian teknis petikan Richardson mungkin yang berhasil menyisihkan "Waiting to Register".

Drama pada teknis yang dibuat Richardson, mengingatkan kita pada pilihan juri WPP 2008 kala memenangkan karya fotografer lepas Inggris, mendiang Tim Hetherington yang dibadikan dari dalam bunker pertahanan pasukan AS di lembah maut Korengal, Afghanistan Timur, medio September 2007. Dari imaji keletihan dan pandangan hampa prajurit anggota resimen infantri 503 AS itu, juri memutuskan memilih karya Hetherington yang sebelumnya hanya memenangi penghargaan kedua dari kategori General News tersebut sebagai "Photo of the Year" versi WPP 2007.

Pada pemilihan yang subyektif pada imaji-imaji itu, kita dapat meraba bahwa pemilihan foto terbaik tahunan WPP tak melulu tertuju pada teknis prima dan momentum peristiwa yang verbal semata-mata. Padanya harus juga bisa terefleksikan konten topikal yang menjadi representasi suara para wartawan foto seantero bumi sepanjang tahun berjalan. Dalam imaji Hetherington, dewan juri seperti ingin menafsirkan pesan, "Yankee dan para sekutumu, pulanglah, biarkan Afghanistan dan Timur Tengah mengurus negeri mereka sendiri". Hetherington dan sejawatnya, fotografer AS Chris Hondros, kemudian tewas terkena pecahan mortir yang ditembakkan pasukan Muammar Ghadafi, saat mereka meliput konflik bersenjata di Misrata, Libya pada 2013.

Atau pada foto terbaik tahun 2014, karya fotografer Denmark Mads Nissen, yang memperlihatkan pasangan sejenis, Alex dan Jon di apartemen kecil mereka di St.Petersburg, Rusia. Pesan dari imaji ini tentu tak secara verbal mengacu kepada restriksi yang semakin mengurung keberadaan mereka sebagai elemen dari yang kita kenal dengan sebutan LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender) di Rusia. Namun lebih luas lagi sebagai simbol bahwa imaji tersebut adalah juga perwakilan kaum minoritas dalam berbagai perwujudannya yang semakin tertekan keberadaannya di seluruh pelosok dunia yang semakin ortodoks dan represif seraya menjulurkan lidah berapi yang penuh amarah kebencian.

Dari 8 kategori lomba dalam format foto tunggal (single) dan cerita (stories) maka terdapat 16 pemenang untuk masing-masing (utama, kedua dan ketiga) pada kontes WPP tahun ini. Seperti yang diduga, konten gelombang manusia perahu Suriah mendominasi kontes fotografi jurnalistik dengan 7 pemenang. Dua imaji datang dari gempa bumi 7,8 Richter yang melantakkan ranah Nepal, dua dari kawasan Timur Tengah, sementara hanya dua imaji yang mewakili serangan terorisme di Paris. New York Times menyabet 6 penghargaan dari 4 pewarta foto yang memasok media besar itu. Sayangnya dari 41 pemenang yang datang dari 21 negara, hanya tiga negara yang berhasil mewakili Asia (Jepang, Tiongkok dan Iran).

Bedasar fakta tersebut maka kontes WPP tahun ini terhamparkan seolah sebagai samudra curhat jurnalisme barat atas kejahatan kemanusiaan yang menyebabkan air bah pengungsian terbesar ke Eropa Barat sejak pecahnya Perang Dunia kedua. Meskipun sejarah konflik mencatat bahwa akar penyebab pengungsian besar-besaran tersebut secara eksplisit merupakan dampak dari kegagalan politik luar negeri AS yang didukung sekutu-sekutunya khususnya di Irak, Suriah dan Afghanistan. Kehancuran politik luar negeri AS di Vietnam tampaknya masih kurang kuat untuk mereka jadikan sebagai contoh soal. Tak perlu menanti sampai kedatangan kembali tragedi Aylan Kurdi dan gelombang orang-orang perahu. Sekarang dan juga nanti.

oscar motuloh
kurator Galeri Foto Jurnalistik Antara

Foto: Screenshot situs WordPressPhoto.org yang menampilkan foto "Hope of a New Life" (Warren Richardson)


Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use